Resep, stok, kasir, dan kas dalam satu rantai. Setiap gelas yang terjual memotong bahannya, menghitung modalnya, dan berakhir di laporan laba rugi — tanpa Anda menyusun ulang angkanya.
Jawabannya butuh buka spreadsheet, lalu menebak harga bahan bulan ini.
Catatan dan realita berbeda, tanpa jejak yang bisa ditelusuri ke asalnya.
Angkanya tersebar di tempat berbeda dan tidak disusun dengan cara yang sama.
Tercatat di buku, di kasir, dan di kepala. Ketiganya jarang cocok.
Stok diturunkan dari kartu mutasi. Kas disusun dari entri yang tidak pernah dihapus. Modal dihitung dari harga bahan pada tanggalnya. Tidak ada angka yang berdiri sendiri tanpa asal-usul.
Harga bahan hanya ditambah, tidak pernah ditimpa — jadi laporan bulan lalu tidak ikut berubah saat harga hari ini naik.
Kasir, kantor, dapur, dan pelanggan punya perangkat dan tempo yang berbeda. Memaksanya jadi satu antarmuka seragam membuat keempatnya kompromi.
Dashboard, laba rugi, dan kontrol master data. Padat informasi untuk yang duduk dan membandingkan angka.
Layar penuh untuk tablet. Sedikit ketukan, target sentuh besar, checkout secepat mungkin.
Tema gelap untuk layar yang menyala sepanjang shift. Tiket per pesanan, terbaca dari jarak pandang.
Pindai QR di meja untuk lihat menu, lalu sampaikan pesanan ke kasir — langsung tercatat dan masuk ke layar dapur.
Setiap gelas yang terjual langsung mengurangi bahannya sesuai resep — tidak ada hitung ulang manual di akhir hari.
Dihitung dari harga bahan yang berlaku pada tanggal transaksinya. Laporan bulan lalu tidak ikut berubah saat harga naik hari ini.
Diturunkan dari kartu mutasi. Koreksi selalu jadi baris baru, bukan menimpa angka lama.
Catatan uang tidak pernah dihapus. Salah input diperbaiki lewat entri pembalik yang meninggalkan jejak.
Aktifkan dan atur tarifnya per cabang. Terpisah otomatis dari laba di laporan — titipan negara bukan pendapatan.
Pelanggan pindai QR untuk lihat menu, kasir yang mencatatkan bill-nya — langsung masuk layar dapur, stoknya ikut terpotong.
Resep dan bahan sama di semua cabang — supaya modal antar cabang tetap bisa dibandingkan.
Sebagian besar bisnis gagal memakai AI bukan karena modelnya kurang pintar, tapi karena datanya berantakan. Di sini harga bahan, mutasi stok, dan setiap rupiah kas sudah tercatat berurut dengan asal-usulnya — bahan mentah yang benar untuk analisis otomatis.
Fitur ini sedang dikembangkan dan belum tersedia di aplikasi. Contoh di samping adalah ilustrasi arah pengembangan, bukan keluaran yang sudah berjalan.
Margin Latte turun 4% bulan ini — harga susu naik Rp2.000/liter sejak 12 Agustus.
Cabang Losari kehabisan biji kopi tiap Jumat sore. Stok aman butuh tambahan 3 kg.
Croissant Coklat menyumbang 12% waste dari produksi pagi. Batch lebih kecil lebih untung.